Jelajahi Web

Kusut Bukan Anti Rapi

Bagi sebagian kita, situasi yang terlihat kusut, kumal, dan lebih parah dari itu terkadang menghadirkan suasana yang berbeda. Situasi hati yang awalnya netral, bisa berubah drastis ke beberapa bentuk. Bagaimana bentuknya, tentu orang berbeda-beda. Tergantung bagaimana kita memandang orang yang seperti dimaksud. Nah, itu jika Anda di posisi orang yang rapi, katakanlah seperti itu. Sebab Anda tentu ketika membaca ini sedang menggenggam gedget atau di depan komputer yang akses ke sana, si kusut masih bermimpi. Begini, teman saya si kusut ketika aku berbincang, dirinya sepertinya jauh dari beban hidup sejatinya. Tak seperti si rapi, hari ini pake kemeja Rp500 ribu, besok harus diupgrade lagi ke satu tingkat di atasnya. Di tengah-tengah perbincangan itu, si kusut sangat santai. Dia memasukkan tangan ke saku, mengeluarkan korek api dan bungkusan rokok yang mereknya tidak aku ketahui. Baru pertama lihat. Disulut ujungnya, dihisap kemudian dihembuskan asapnya. Dia lalu bersandar dan memegang pundakku. Katanya, dunia tak seperti apa yang kelihatan kawan. Saya tentu sepakat dengan itu. Dia kemudian merogoh saku lagi, dikeluarkannya uang Rp2.000. Aku di suruhnya pergi beli teh gelas. Aku tiba kembali. Dia tak banyak retorika, dia langsung saja meneguk minuman dingin di hadapannya. Seperti dia sangat haus, satu gelas minuman itu dihabiskannya. "Kawan, kita ini kaum kusut. Bukan kaum rapi. Bagaimana pun kamu mencoba menjadi kaum rapi, jiwamu akan tetap kusut. Yah, karena kita memang orang-orang yang tidak terlalu ambisius dengan dunia. Kelak, kamu akan muak denga kerapian itu. Maka kembalilah kusut kawan. Mereka hanya para budak dunia yang tak mau memandang kita para kaum kusut, walaupun kita sebenarnya lebih bahagia dari mereka," katanya. Aku hanya bisa diam. Yah, karena betul apanyang dikatakannya barusan itu. Aku bukanlah kaum rapi, sebab sejatinya aku lahir, kecil, dan besar di tengah kaum kusut. Adapun saat ini, semua hanya kamuflase.

0 Response to "Kusut Bukan Anti Rapi"